Jumat, 26 September 2014

Materi Jumat, 26 September 2014



Halo semua pengunjung setia Filsafat Tour Agency masih tetap bersama saya guide Veronica. Kali ini, saya akan mengajak anda menjelajahi tentang manusia dan afektivitasnya dan kebebasan manusia serta materi tambahan kami yakni inteligensi. Selamat menikmati perjalanan anda!!

MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA
Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah afektivitasnya. Afektivitas mendorong orang untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.

Kerap afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa: Padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga menyangkut hal yg spiritual.

Hidup afektif atau afektivitas adalah seluruh perbuatan afektif yang dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.

Perbuatan afektif sedikit mirip dengan ‘perbuatan mengenal’ karena dianggap perbuatan vital/imanen. Tapi perbuatan afektif beda dengan ‘perbuatan mengenal’ karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pada obyek.

Orang sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka tidak baik. Padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai orang lain dengan sungguh2.

Egoisme menolak setiap perhatian otentik pada orang lain. Orang egois hanya mengambil untung dari apa saja.

KEBEBASAN

JIWA DAN KEEBASAN

Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya

Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas. Karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas. Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanisme

sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan” (Erich Fromm, The Fear of Freedom, 1960). Artinya, kebebasan menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia.

PANDANGAN DETERMINISME

Aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa-peristiwa lainnya.

Kelemahan determinisme:
1.    Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia.
2.    Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
3.    Menafikan adanya tanggung jawab

PENGERTIAN KEBEBASAN 

Pengertian umum/Kebebasan negatif/tidak ada hambatan (tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan). Tapi ini bukan kebebasan eksistensial

Pengertian khusus/kebebasan eksistensial:
1.    Penyempurnaan diri
2.    Kesanggupan memilih dan memutuskan
3.    Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan (kebebasan/hak-hak dasar seperti ditegaskan Franz Magnis-Suseno)

JENIS KEBEBASAN

      Kebebasan horizontal
Berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
2  
      Kebebasan eksistensial
kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain, kebebasan:

Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial:
a.    Melibatkan pertimbangan
b.    Mengedepankan nilai kebaikan
c.    Menghidupkan otonomi
d.    Menyertakan tanggung jawab
Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normatif

Empat alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
            *)Menyertakan pengertian
            *)Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
            *)Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
            *)Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk social

SEJARAH PERKEMBANGAN MASALAH KEBEBASAN

Filsafat Yunani tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah kebebasan karena…

Adanya pandangan bahwa semua hal berada di bawah “nasib”, “kehendak mutlak” yang mengatasi manusia dan para dewasa, yang secara sadar atau tidak sadar menentukan tindakan. Jadi, tak ada pertanggungjawaban manusia atas tindakannya

Menurut pemikiran Yunani, manusia adalah bagian alam maka harus mengikuti hukum umum yang mengaturnya dan manusia terpengaruh oleh sejarah yang bergerak secara siklis

Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik

Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan oleh perspektif antroposentrik
 
Era kontemporer (pascamodern?), kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial
Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri

INTELIGENSI

Pengetahuan kita adalah sekaligus inderawi dan intelektif. Dikatakan inderawi lahir melalui penglihatan, telinga, penciuman, perasaan dan perabaan, kenyataan yang mengelilingi kita.  
 Dikatakan inderawi batin ketika ia memperlihatkan pada kita dengan ingatan dan khayalan.

Pengetahuan adalah perseptif ketika muncul secara spontan dan memungkinkan menyesuaikan diri
Pengetahuan adalah reflektif ketika ia membuat objektif kodrat dari manusia
Pengetahuan adalah diskursif ketika ia memperhatikan suatu objek dari benda.
Pengetahuan adalah induktif ketika ia menarik dari universal dari individual
Pengetahuan bersifat sinergis bila menggunakan seluruh keadaan dari subjek.

ARTI PENGETAHUAN
Dari segi subjek, keterbukaan, kemampuan, interioritas
Dari segi objek, membuat kesan mempengaruhi subjek. Suatu realitas bisa mempengaruhi yang lainnya.

Intelegensi tidak bisa diidentifikasikan dengan insight yang terdiri dari aperepsi dan aprehensi

Insight bukanlah merupakan keseluruhan kegiatan intelektual

bila bersifat induktif maka dia mulai dari satu atau banyak fakta untuk sampai kepada satu esensi atau hukum

Bila bersifat deduktif, maka ia mulai dari suatu prinsip untuk mencapai kesimpulan
Intelegensi manusia dewasa terletak pada objektivitasnya dan bersifat tak terbatas ia memperhitungkan pelajaran masa lampau dan kemungkinan masa depan. Segala penegasan, penilaian, kesimpulan dan penalaran kita didasarkan kepada beberapa prinsip:
1. Prinsip identitas
2. Prinsip alasan yang mencukupi
3. Prinsip kausalitas efisien

Insight adalah intelegensi yang berhasil menembus suatu data, menangkap eidosnya, bahwa intelegensi mampu mengandaian atau mengabstraksikan untuk menerangkan data sehingga jelas ciri-ciri pokoknya.

Putusan lebih di refleksikan daripada persepsi, aprehensi, dan insight sebab tidak ada putusan autentik kecuali sudah menyadari dasar kebenarannya.
Menurut aliran sensualisme masukan informasi lewat indra tempat bergantungnya pengetahuan dan intelegensi kita. Intelegensi adalah prinsip kekekalan dalam diri kita. 

Terimakasih telah mengikuti perjalanan kami hari ini. semoga blog kami dapat memberi manfaat dan menambah pengetahuan kalian semua. God bless:)

Sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar Universitas Tarumanagara

2 komentar: