Halo semua
pengunjung setia Filsafat Tour Agency
masih tetap bersama saya guide
Veronica. Kali ini, saya akan mengajak anda menjelajahi tentang manusia dan
afektivitasnya dan kebebasan manusia serta materi tambahan kami yakni
inteligensi. Selamat menikmati perjalanan anda!!
MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA
Yang
membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah afektivitasnya. Afektivitas
mendorong orang untuk mencintai,
mengabdi dan menjadi kreatif.
Kerap afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan
merasa: Padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga
menyangkut hal yg spiritual.
Hidup afektif atau afektivitas adalah seluruh
perbuatan afektif yang
dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.
Perbuatan afektif sedikit mirip dengan ‘perbuatan mengenal’
karena dianggap
perbuatan vital/imanen. Tapi perbuatan afektif beda dengan ‘perbuatan
mengenal’ karena perbuatan
afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka
diri pada obyek.
Orang
sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka tidak baik. Padahal
cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai orang lain dengan sungguh2.
Egoisme menolak setiap perhatian otentik pada orang lain. Orang egois hanya
mengambil untung dari apa saja.
KEBEBASAN
JIWA DAN
KEEBASAN
Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk
menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan
perbuatannya
Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan
dengan kehendak bebas. Karena
jiwalah manusia menjadi mahluk bebas.
Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanisme
“sejarah
manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan” (Erich
Fromm, The Fear of Freedom, 1960).
Artinya, kebebasan menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi
manusia.
PANDANGAN
DETERMINISME
Aliran
yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Setiap peristiwa,
termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa-peristiwa
lainnya.
Kelemahan
determinisme:
1.
Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia.
2.
Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan
penilaian terhadap tindakannya
3.
Menafikan adanya tanggung jawab
PENGERTIAN
KEBEBASAN
Pengertian umum/Kebebasan negatif/tidak ada hambatan
(tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan).
Tapi ini bukan kebebasan eksistensial
Pengertian khusus/kebebasan eksistensial:
1.
Penyempurnaan diri
2.
Kesanggupan memilih dan memutuskan
3.
Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan
(kebebasan/hak-hak dasar seperti ditegaskan Franz Magnis-Suseno)
JENIS
KEBEBASAN
Kebebasan
horizontal
Berkaitan
dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual
dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
2
Kebebasan eksistensial
Kebebasan eksistensial
kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan
kebebasan sosial (terkait dengan orang lain, kebebasan:
Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial:
a.
Melibatkan pertimbangan
b.
Mengedepankan nilai kebaikan
c.
Menghidupkan otonomi
d.
Menyertakan tanggung jawab
Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan
normatif
Empat
alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
*)Menyertakan
pengertian
*)Memberi ruang
bagi kebebasan eksistensial
*)Menjamin
pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
*)Terkait dengan
hakikat manusia sebagai mahkhluk social
SEJARAH
PERKEMBANGAN MASALAH KEBEBASAN
Filsafat Yunani tidak memberikan jawaban yang
memuaskan atas masalah kebebasan karena…
Adanya pandangan bahwa semua hal berada di bawah
“nasib”, “kehendak mutlak” yang mengatasi manusia dan para dewasa, yang secara
sadar atau tidak sadar menentukan tindakan. Jadi, tak ada pertanggungjawaban
manusia atas tindakannya
Menurut pemikiran Yunani, manusia adalah bagian alam
maka harus mengikuti hukum umum yang mengaturnya dan manusia terpengaruh oleh sejarah yang bergerak secara
siklis
Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam
perspektif teosentrik
Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan oleh
perspektif antroposentrik
Era kontemporer (pascamodern?), kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial
Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat
sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk
mencapai kesatuan dan pengendalian diri
INTELIGENSI
Pengetahuan kita adalah sekaligus inderawi dan
intelektif. Dikatakan
inderawi lahir melalui penglihatan, telinga, penciuman, perasaan dan perabaan,
kenyataan yang mengelilingi kita.
Dikatakan inderawi batin ketika ia memperlihatkan pada
kita dengan ingatan dan khayalan.
Pengetahuan adalah perseptif ketika muncul secara spontan dan memungkinkan menyesuaikan diri
Pengetahuan adalah reflektif ketika ia membuat
objektif kodrat dari manusia
Pengetahuan adalah diskursif ketika ia memperhatikan
suatu objek dari benda.
Pengetahuan adalah induktif ketika ia menarik dari
universal dari individual
Pengetahuan bersifat sinergis
bila menggunakan seluruh keadaan dari subjek.
ARTI
PENGETAHUAN
Dari segi
subjek, keterbukaan,
kemampuan,
interioritas
Dari segi
objek, membuat kesan mempengaruhi subjek. Suatu realitas bisa
mempengaruhi yang lainnya.
Intelegensi tidak bisa diidentifikasikan dengan insight
yang terdiri dari aperepsi dan aprehensi
Insight bukanlah merupakan keseluruhan
kegiatan intelektual
bila bersifat induktif maka dia mulai dari satu atau
banyak fakta untuk sampai kepada satu esensi atau hukum
Bila bersifat deduktif, maka ia mulai dari suatu
prinsip untuk mencapai kesimpulan
Intelegensi manusia dewasa terletak pada
objektivitasnya dan bersifat
tak terbatas ia memperhitungkan pelajaran masa lampau dan kemungkinan masa
depan. Segala
penegasan, penilaian, kesimpulan dan penalaran kita didasarkan kepada beberapa
prinsip:
1. Prinsip identitas
2. Prinsip alasan yang mencukupi
3. Prinsip kausalitas efisien
Insight adalah intelegensi yang berhasil menembus
suatu data, menangkap eidosnya, bahwa intelegensi mampu mengandaian atau
mengabstraksikan untuk menerangkan data sehingga jelas ciri-ciri pokoknya.
Putusan lebih di refleksikan daripada persepsi,
aprehensi, dan insight sebab tidak ada putusan autentik kecuali sudah menyadari
dasar kebenarannya.
Menurut aliran sensualisme masukan informasi lewat
indra tempat bergantungnya pengetahuan dan intelegensi kita. Intelegensi adalah
prinsip kekekalan dalam diri kita.
Terimakasih telah mengikuti perjalanan kami hari ini. semoga blog kami dapat memberi manfaat dan menambah pengetahuan kalian semua. God bless:)
Sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar Universitas Tarumanagara
ika, blognya lucu ada hellokittynya hehehe gw kasih nilai ya 100 heheh
BalasHapusmakasih ya olentin hehe
Hapus