Hallo
semuanya kembali lagi di blog kami Filsafat Tour Agency dengan saya guide
Veronica yang akan menemani anda mengelilingi seluk beluk materi hari ini. Materi
kali ini adalah mengenai etika dalam praktek dan filsafat manusia. Wahhhh menarik
sekali bukan? Berikut kami telah merangkum dari kedua materi tersebut.
ETIKA DAN MORAL
Etika disebut
juga flsafat moral secara etimologis, etika berasal dari kata Yunani=Ethos:
watak.Sedangkan moral berasal dari kata Latin: Mos (tunggal), moris
(jamak) artinya kebiasaan. Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia
diartikan sebagai kesusilaan.
Obyek material dari etika adalah
tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan dimaksudkan di sini adalah yang
dilakukan secara bebas dan sadar. Obyek formal dari etika adalah kebaikan dan
keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.
Dari asal usul kata; Etika berarti ilmu tentang apa
yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan
Etika menurut Bertens:
1. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Disebut juga sebagai “sistem nilai” dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat. Misal: Etika orang Jawa.
1. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Disebut juga sebagai “sistem nilai” dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat. Misal: Etika orang Jawa.
2.Kumpulan asas
atau nilai moral. Yang dimaksud disini adalah kode etik, misal : Kode Etik Advokat
Indonesia, Kode Etik Notaris Indonesia.
3.Ilmu tentang yang
baik atau yang buruk. Artinya sama dengan filsafat moral.
Etika dibedakan
menjadi 2:
ETIKA PERANGAI
Adat
istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup
bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. berlaku
karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku. Contoh:
berbusana adat, pergaulan muda-mudi, perkawinan semenda, upacara adat.
ETIKA MORAL
Berkenaan
dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila
dilanggar timbul kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar.
Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.Contoh: berkata
dan berbuat jujur, menghargai hak orang lain, menghormati orang tua atau guru,
membela kebenaran dan keadilan, menyantuni anak yatim-piatu
Arti etika:
Etika sebagai ilmu
“Ilmu
tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.”
Etika sebagai kode etik
“Kumpulan
asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.”
Etika sebagai sistem nilai
“Nilai
mengenai benar-salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.”
Objek material = suatu hal
yang dijadikan sasaran pemikiran, suatu hal yang diselidiki, atau suatu hal
yang dipelajari. Objek material bisa bersifat konkret atau abstrak.
Objek formal = cara
memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti/ ilmuan terhadap
objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.
Objek material etika = tingkah
laku atau perbuatan manusia (perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas).
Objek formal etika = kebaikan
dan keburukan, bermoral tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. (Perbuatan
yang dilakukan secara tidak sadar atau tidak bebas, tidak dapat dikenakan
penilaian bermoral atau tidak bermoral).
BERDASARKAN KAJIAN ILMU
1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
2.Etika
Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral
seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma,
dsb.
TUJUAN
BELAJAR ETIKA
Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan
baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu
Sebagai ilmu,
etika bersifat kritis dan metodis.
SISTEMATIKA
ETIKA
De Vos (1987)
ETIKA:
• Etika
Deskriptif
1.
Sejarah Kesusilaan
2.
Fenomenologi Kesusilaan
• Etika
Normatif
K. Bertens (1993):
ETIKA:
• Etika
Deskriptif
• Etika
Normatif
1.
Etika Umum
2.
Etika Khusus
• Metaetika
Franz Magnis-Suseno (1991)
ETIKA:
• Etika
Umum
• Etika
Khusus
-
Etika Individividual
-
Etika Sosial: - Sikap terhadap sesama
- Etika keluarga
- Etika profesi: -biomedis
- bisnis
- hukum
- ilmu pengetahuan
- dll
- Etika politik
- Etika lingkungan hidup
- Kritik ideologi-ideologi
ETIKA
DESKRIPTIF
Dalam etika deskriptif, etika membahas apa yang
dipandangnya.
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam
arti luas. Misalnya: adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk,
tindakan-tindakan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.
Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat
pada individu dan kebudayaan atau subkultur tertentu, atau dalam suatu periode
sejarah.
SEJARAH
KESUSILAAN
Yang diselidiki adalah: pendirian-pendirian mengenai
baik-buruk yang manakah, norma-norma kesusilaan yang manakah yang pernah
berlaku, dan cita-cita kesusilaan yang manakah yang dianut oleh bangsa-bangsa
tertentu
FENOMENOLOGI
KESUSILAAN
Fenomenon = sesuatu yang tampak, yang terlihat
karena bercahaya (sering disebut
gejala)
Logos = uraian, percakapan
Fenomenologi: Uraian atau
percakapan tentang
fenomenon
atau sesuatu yang
sedang menampakkan diri,
atau
sesuatu yang sedang
menggejala
Fenomenologi kesusilaan mencari makna kesusilaan dari
gejala-gejala kesusilaan; artinya, ilmu pengetahuan ini melukiskan kesusilaan
sebagaimana adanya, mempertanyakan apakah yang merupakan hakikat kesusilaan.
Ciri pokok fenomenologi adalah menghindarkan pemberian
tanggapan mengenai kebenaran
ETIKA
NORMATIF
Etika normatif tidak lagi
berbicara tentang gejala-gejala, tetapi tentang apa yang seharusnya dilakukan.
Dalam etika normatif, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan.
Etika normatif berbicara
mengenai pelbagai norma yang menuntun tingkah laku manusia. Etika normatif
memberikan penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana
seharusnya berdasarkan norma-norma.
Etika normatif itu tidak
deskriptif, tetapi preskriptif (artinya memerintahkan); tidak melukiskan
melainkan menentukan benar-tidaknya tingkah laku atau anggapan-anggapan moral.
METAETIKA
Istilah metabahasa diciptakan untuk menunjukkan
bahwa yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan
di bidang moralitas.
Metabahasa bergerak pada
taraf lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu pada taraf “bahasa etis” atau
bahasa yang digunakan di bidang moral.
Persoalan yang menyangkut metaetika adalah
persoalan yang rumit. Pertanyaan tentang hakikat keadilan, hakikat
ketidakadilan, bahkan hakikat kebaikan dan keburukan, kerap kali pertanyaan
seperti ini tidak bisa dijawab secara memuaskan.
ETIKA UMUM
Etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip dasar yang
beraku bagi segenap tindakan manusia.
ETIKA KHUSUS
membahas prinsip-prinsip moral dasar itu dalam
hubungan dengan kewajiban manusia dalam pelbagai lingkup kehidupannya; atau,
etika khusus menerapkan prinsip-prinsip dasar pada setiap bidang kehidupan
manusia.
PROFESI
Pekerjaan yg mengandalkan ketrampilan dan keahlian
khusus
Pekerjaan yg dilakukan sebagai sumber utama nafkah
hidup dg keterlibatan pribadi yg mendalam dalam menekuninya.
Pekerjaan yg menuntut pengembangan untuk terus menerus
memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan sesuai perkembangn teknologi.
Etika Profesi adalah : Etika sosial yg menyangkut
hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna
profesi tersebut.
PRINSIP ETIKA
PROFESI
1. Tanggung jawab
Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap
hasilnya.
Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang
lain atau masyarakat pada umumnya.
2. Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada
siapa saja apa yang menjadi haknya.
3. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional
memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.
KODE ETIK
norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok
tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di
tempat kerja.
Tujuan kode
etik:
1. Untuk
menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan
para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
ALIRAN
PEMIKIRAN ETIKA
Hedonisme (Yunani = hedone:
kenikmatan atau yang menyenangkan). Kebaikan manusia menurut kaum hedonis
terletak dalam kenikmatan dan kesenangan yang menjadi tujuan hidup manusia.
Aliran ini menganjurkan manusia untuk mencapai kebahagiaan yang didasarkan pada
kenikmatan, kesenangan. Aliran hedonisme menyatakan bahwa kesenangan/
kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia oleh karena itu reguklah kenikmatan
selama masih bisa direguk. Padahal mereka lupa bahwa kegembiraan pikiran lebih
tinggi daripada kenikmatan jasmani.
Egoisme: kesenangan
dan kebaikan diri sendiri menjadi target usaha seseorang dan bukan kebaikan
orang lain. Sebaliknya aliran yang menekankan dan melihat kesenangan atau
kebahagiaan orang lain menjadi tujuan segala usaha manusia disebut: altruisme
(Latin: alter= yang lain atau orang lain)
Utilitarianisme: (Latin: uti, usus sum= menggunakan atau
utilis= yang berguna). Ini merupakan bentuk hedonisme yang digeneralisir.
Kesenangan atau kenikmatan manusia dilihat sebagai seusuatu yang baik dalam
dirinya, sedangkan penderitaan dan sakit adalah buruk dalam dirinya. Aliran ini
menyatakan bahwa tindakan yg baik adalah tindakan yg sebesar-besarnya bagi
manusia yang sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain segala sesuatu yang berguna
selalu dianggap baik.
Deontologisme (Yunani:
deon+logos= ilmu tentang kewajiban moral). Adalah etika kewajiban yang
didasarkan pada intuisi manusia tentang prinsip-prinsip moral. Sikap dan
intensi pelaku lebih diutamakan daripada apa yang dilakukan secara konsekuensi
perbuatan itu.
Deontologisme Etis: berpendirian bahwa sesuatu
tindakan dianggap baik tanpa disangkutkan dengan nilai kebaikan suatu hal. Yang
menjadi dasar moralitas adalah kewajiban.
Etika situasi: kebenaran
suatu tindakan ditemukan dalam situasi konkret individual atau bagaimana
situasi itu mempengaruhi kesadaran individual.
PERBEDAAN
ETIKA DAN MORAL
moral/moralitas digunakan untuk perbuatan yang sedang
dinilai;
etika digunakan
untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
AMORAL DAN IMMORAL
Amoral:
•
“tidak berhubungan dengan
konteks moral”
•
“di luar suasana etis”
•
“non-moral”
Immoral:
•
“bertentangan dengan
moralitas yang baik”
•
“secara moral buruk”
•
“tidak etis”
BEDA ETIKA DAN ETIKET

BEDA ETIKA DAN AGAMA
Etika sebagai cabang
filsafat bertitik tolak pada akal pikiran, bukan agama. Etika mendasarkan diri
hanya pada argumentasi rasional. Agama bertitik tolak dari wahyu Tuhan melalui
Kitab Suci.
BEDA ETIKA DAN HUKUM
Hukum didasarkan pada
kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara; etika melebihi para
individu dan masyarakat.
Jika hukum memberikan
putusan hukumnya perbuatan, etika memberikan penilaian baik buruknya.
Etika ditujukan kepada manusia
sebagai individu; hukum ditujukan kepada manusia sebagai makhluk sosial.
FILSAFAT
MANUSIA
Bagian filsafat yang
mengupas apa arti manusia/menyoroti hakikat atau esensi manusia
Memikirkan tentang asal-usul
kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of
human life), dan realitas eksistensi manusia
Hasrat untuk tahu siapa dan
apakah manusia. Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang
dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.
GUNA BELAJAR FILSAFAT
Manusia adalah makhluk yang
mampu dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari
“yang ada”
Pandangan yang bertentangan
antar filsuf dapat diatasi dan diperdamaikan
“kesalahan” para filsuf
dapat dikoreksi lagi
Sayang bukan bila tidak
mendalami ajaran filosofis yang begitu mendalam dari para filsuf a.l:
Plato
Aristoteles
Merleau-Ponty
Paul Ricoeur
Martin Heidegger
Soren Kierkegaard
Emmanuel Levinas
Gabriel Marcel
Jacques Lacan
Jacques Derrida dll
Konsepsi mereka begitu
mendalam dan holistic
METODE FILASAFAT MANUSIA
refleksi, analisa
transendental dan sintesa, ekstensif, intensif dan
kritis
OBJEK FILSAFAT MANUSIA
Objek material: manusia
Objek formal: esensi
manusia, strukturnya yang fundamental
Struktur fundamental bukan
fisik melainkan struktur metafisik yakni intisari, struktur dasar, bentuk
terpenting manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui melalui daya
pikir, bukan penginderaan.
DARI MANA DATANGNYA FILSAFAT MANUSIA?
1. Kekaguman
2. Ketakjuban
3. Frustrasi
4. Delusi
5. Pengalaman negatif
“aku menjadi masalah besar
bagi diriku” kata Augustinus yang sedih karena kematian temannya
“karena kita adalah manusia
yang akan mati…kita tidak akan puas dengan perubahan formasi sosial melulu,
tetapi kita ingin mengetahui persoalan pribadi” (Adam Schaft)
Refleksi filosofis tentang
manusia dapat tumbuh dari pengalaman akan kehampaan, alienasi, rutinitas, dan
absurditas sebagaimana digambarkan oleh
Albert Camus
Thanks guys selamat menikmati perjalanan anda dengan Filsafat Tour Agency semoga kami dapat terus membantu anda dalam memahami filsafat. Terimakasih:)
Sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar Universitas Tarumanagara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar