Minggu, 21 September 2014

Materi Selasa 16 September 2014

Hari ini saya mempelajari tentang materi baru yakni metafisika dan aksiologi. materi ini cukup sulit untuk dipahami namun perlahan-perlahan saya dapat mengertinya. berikut ini saya akan membuat rangkuman mengenai apa yang telah dipelajari pada pertemuan kedua:

METAFISIKA

Pembagian filsafat:
Tahap awal: Filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan, lalu makin rasional dan
sistematis.

Pengetahuan manusia: makin luas dan bertambah banyak, tapi makin khusus.

Disiplin ilmu memisahkan diri dari filsafat.
Namun masalah pokok filsafat makin banyak, maka perlu dibagi sesuai kelompok permasalahan, yang disebut cabang filsafat.

Tokoh:

Aristoteles: Fils. Spektulatif/Teoretis, praktika, produktif. Analitika dan Dialektika masuk
dalam metode dasar bagi pengembangan filsafat.

Christian Wolff (1679-1754): Logika, Ontologi, Kosmologi, Psikologi, Teologi Naturalis,
Etika.

Will Durant (The Story of Philosophy, 1926): Logika, Estetika, Etika, Politika, Metafisika.

Eerste Nederlandse Systematich Ingerichte Encyclopaedie-ENSIE: Metafisika, Logika,
Epistemologi, Filsafat Ilmu, Fils. Naturalis, Fils. Kultural, Fils. Sejarah, Estetika, Etika, Fils.
Manusia.

The World University Encyclopedia: Sejarah filsafat, Metafisika, Epistemologi, Logika,
Etika, Estetika.
Beragam arti metafisika:
upaya mengkarakterisasi realitas sbg keseluruhan.
usaha menyelidiki apakah hakikat yg berada di balik realitas.
(umum) pembahasan falsafati yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala
sesuatu yang ada. Pembagian metafisika: Metafisika umum (ontologi) dan metafisika 
khusus yg meliputi: kosmologi, teologi metafisik, fils. Antropologi


Metafisika umum (ontologi):
Membahas segala sesuatu yg ada secara menyeluruh dg cara memisahkan eksistensi dari penampilann eksistensi itu

   
Tiga teori ontologis:

* idealismeada sesungguhnya berada di dunia ide, yg tampak nyata dalam alam indrawi
hanyalah bayangan dr yang sesungguhnya. Tokohnya Berkeley (1685-1753): satu-satunya
realitas sesungguhnya ialah aku subjektif spiritual. I. Kant (1724-1804): objek pengalaman
ialah yg ada dalam ruang dan waktu, penampilan dr yang tak punya eksistensi dan
independen di luar pemikiran kita. Hegel (1770-1831): segala sesuatu yang ada adalah satu
bentuk dr satu pikiran.
Materialisme: menolak hal yg tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yg
keberadaannya semata-mata material. Realitas ialah alam kebendaan.
*Leukippos dan Demokritos (460-370sM): realitas bukan hanya satu tapi banyak unsur yg
tak dpt dibagi (atom).
Hobbes (1588-1679): seluruh realitas ialah materi yg tak bergantung pada pikiran kita.
L.A.Feuerbach (1804-1872): material adalah realitas sesungguhnya, manusia bagian dari
alam meteri itu.

Dualisme: tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tdk
kelihatan scr fisis). Hrs dibedakan dg monisme dan pluralisme (àteori ttg jumlah substansi).
Metafisika khusus
Teologi metafisik: dikenal dg theodicea yg membahas kepercayaan pd Allah di tengah
realitas kejahatan yg merajalela di dunia.

Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama. Beberapa tokoh Anselmus,
Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dg bukti rasional sbb:

- Argumen ontologis: semua manusia punya ide ttg Allah. Realitas lebih sempurna dr ide.
Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih sempurna dr ide manusia ttg Tuhan.

- Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat.
Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.

- Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan
sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.

- Argumen moral:Manusia bermoral karena dpt membedakan yang baik dan buruk. Dasar
dan sumber moralitas adalah Allah.


Filsafat Stoa: panteistis – segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam.
Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan
adanya Allah.

David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume
menolak Allah dan kebenaran agama.
L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan
manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sbg
Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.

Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu a) penguasa alam, b) agama
mendamaikan manusia dengan nasibnya yg mengerikan, c) Allah menjaga agar
ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.
  
AKSIOLOGI

Aksiologi berasal dari kata dalam bahsa Yunaniyaitu axios dan logos.

Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu.

Nilai berkaitan dengan kegunaan.

Aksiologi merupakan cabang Filsafat yang mempertanyakan bagaimana
manusia menggunakan ilmunya.
Aksiologi sebagai ilmu yang membicarakan tujuan ilmu pengetahuan itu
sendiri
Aksiolog membedakan “yang ada” dengan nilai, membedakan fakta dan
nilai.

Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilaiperlu dibedakan dengan fakta.
Fakta = sesuatu yang ada secara nyataberlangsung begitu saja.
Sementara nilai sebagai sesuatu yg berlaku,sesuatu yg memikat/
mengimbau kita.

Nilai berperanan dalam suasana apresiasisementara fakta ditemui
dalam konteks deskripsiFakta dapat dilukiskan secara objektifMis.
letusan gunung MerapiLetusan bisa  punya nilai bagi seorangtdk bagi
yg lain.

Fakta selalu mendahului nilaiduluan fakta baru penilaian atas fakta tsb

Makaada 3 ciri2 nilai
1) Nilai berkaitan dengan subjek
2Nilai tampil dlm konteks praktis
3) Nilai menyangkut  sifat yang ditambah oleh subjek pd sifat yg dimiliki oleh objek.

Macam2 nilai
1) nilai ekonomisbdk hukum ekonomi
2) nilai estetissaat menikmati lukisanatau lagu yang indah.

Aksiologi dibagi dalam dua bagianyaitu
1) Etika (Filsafat Etika),dan 
2) Estetika (Filsafat keindahan).

Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang
mendasari penilaian terhadap perilaku manusia.
Contohnya tindakan yang membedakan benar salah menurut moral,
putusan moral bertindak sewenang-wenang atau bertindak sekehendak
hati.

Etika digunakan untuk membedakan hal-halperbuatan-perbuatanatau
manusia-manusia lainnya.
Nilai itu kadang-kadang bersifat obyektifnamun kadang-kadang
bersifat subyektif.

Dikatakan obyektif apabila nilai-nilai tidak tergantung pada subyek atau
kesadaran yang menilai.

Tolak ukur suatu gagasan berada pada obyeknya bukan pada subyek
yang melakukan penilaian.

Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu
melainkan pada obyektivitas fakta.

sumber: rangkuman yang dibawakan oleh dosen pengajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar