Jumat, 26 September 2014

Materi Kamis, 25 September 2014



Haiii semua kembali lagi bersama saya Veronica di Filsafat Tour Agency. Hari ini rute perjalanan anda adalah menelusuri filsafat manusia yaitu jiwa dan badan. Apakah anda sudah siap dengan perjalanan hari ini? Haha oke, here we go!

FILSAFAT MANUSIA: JIWA DAN BADAN

Apasih pengertian badan dan jiwa? Mungkin beberapa dari anda memiliki pendapat yang berbeda satu sama lain. Nah, daripada makin bingung, kita liat yuk pengertiannya

Badan dan jiwa adalah satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.

MONISME
Aliran yg menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia.

Bentuk aliran monisme adalah sebagai berikut:

Materialisme: menempatkan materi sebagai dasar bagi segala hal yang ada (fisikalisme). Manusia juga bersumber pada materi. Manusia tidak pernah melampaui potensi jasmaninya. Jiwa tidak punya eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dari materi. Eksistensi jiwa bersifat kronologis (hasil hub sebab akibat). Reduksi humanitas pada dimensi fisik memiliki implikasi negatif pada penilaian atas aktivitas mental.

Teori identitas: menekankan hal berbeda dari materialisme, tapi mengakui aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Letak perbedaan jiwa dan badan hanya pada arti bukan referensi. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yang sama.

Idealisme: ada hal yg tidak dapat diterangkan semata berdasarkan materi, seperti pengalaman, nilai dan makna. Itu hanya punya arti bila dihubungkan dengan sesuatu yang imaterial yaitu jiwa. Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya menjadi peletak dasar dari idealisme.

DUALISME
badan dan jiwa adalah dua elemen yang berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dalam pengertian dan objek.

Empat cabang dualisme:

Interaksionisme =fokus pada hubungan timbal balik antara badan dan jiwa. Peristiwa mental bisa menyebabkan peristiwa badani dan sebaliknya.

Okkasionalisme = memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa. Hubungan peristiwa mental dan fisik bisa terjadi dengan campur tangan ilahi.  

Paralelisme = sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pada jiwa manusia. Dalam diri manusia ada dua peristiwa yang berjalan seiring yaitu peristiwa mental dan fisik, namun satu tidak menjadi sumber bagi lainnya.

Epifenomenalisme = melihat hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu-satunya unsur untuk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.

BADAN MANUSIA
Hakekat badan bukan pertama-tama terletak pada dimensi materialnya, tapi dalam seluruh aktivitas entitas yang terjadi dalam badan: tertawa, menangis, berjalan, lari, duduk, dll.
Menurut pandangan tradisional, badan merupakan kumpulan berbagai entitas material yg membentuk makluk.

JIWA MANUSIA
Jiwa harus dipahami sebagai kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.

James P Pratt menunjuk ada empat kemampuan dasar jiwa manusia.
Pertama, menghasilkan kualitas penginderaan.
Kedua, Mampu menghasilkan makna yg berasal dr pengeinderaan khusus.
Ketiga, mampu memberi tanggapan thdp hasil penginderaan.
Empat, memberi tanggapan pd proses yg terjadi dlm pikiran demi kebaikan.

Menurut Agustinus, manusia hanya bisa melakukan penilaian terhadap tindakannya karena dorongan dari jiwa. Jiwa mendorong manusia untuk melakukan hukum-hukum moral yang diketahui. Praktek moral sehari-hari adalah tanda berfungsinya jiwa dalam diri seseorang. Kemampuan jiwa menunjukkan bahwa kegiatan manusia bukan mekanistik

Terimakasih telah mengikuti perjalanan kami di materi hari ini, semoga blog kami dapat membantu anda untuk memahami filsafat semakin lebih dalam dari ebelumnya dan emoga bermanfaat. God bless:)

Sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar Universitas Tarumanagara







Tidak ada komentar:

Posting Komentar