Haiii
semua kembali lagi bersama saya Veronica di Filsafat Tour Agency. Hari ini rute perjalanan anda adalah menelusuri filsafat
manusia yaitu jiwa dan badan. Apakah anda sudah siap dengan perjalanan hari
ini? Haha oke, here we go!
FILSAFAT MANUSIA: JIWA
DAN BADAN
Apasih
pengertian badan dan jiwa? Mungkin beberapa dari anda memiliki pendapat yang
berbeda satu sama lain. Nah, daripada makin bingung, kita liat yuk
pengertiannya
Badan
dan jiwa adalah satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya
membentuk keutuhan pribadi manusia.
MONISME
Aliran
yg menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah.
Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yang membentuk
pribadi manusia.
Bentuk
aliran monisme adalah sebagai berikut:
Materialisme:
menempatkan materi sebagai dasar bagi segala hal yang ada (fisikalisme).
Manusia juga bersumber pada materi. Manusia tidak pernah melampaui potensi
jasmaninya. Jiwa tidak punya eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dari materi.
Eksistensi jiwa bersifat kronologis (hasil hub sebab akibat). Reduksi humanitas
pada dimensi fisik memiliki implikasi negatif pada penilaian atas aktivitas mental.
Teori
identitas: menekankan hal berbeda dari materialisme, tapi mengakui aktivitas
mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Letak perbedaan jiwa dan badan
hanya pada arti bukan referensi. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yang sama.
Idealisme:
ada hal yg tidak dapat diterangkan semata berdasarkan materi, seperti
pengalaman, nilai dan makna. Itu hanya punya arti bila dihubungkan dengan
sesuatu yang imaterial yaitu jiwa. Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya menjadi peletak dasar dari idealisme.
DUALISME
badan
dan jiwa adalah dua elemen yang berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dalam pengertian
dan objek.
Empat
cabang dualisme:
Interaksionisme =fokus pada hubungan timbal balik
antara badan dan jiwa. Peristiwa mental bisa menyebabkan peristiwa badani dan
sebaliknya.
Okkasionalisme = memasukkan dimensi ilahi dalam
membicarakan hubungan badan dan jiwa. Hubungan peristiwa mental dan fisik bisa
terjadi dengan campur tangan ilahi.
Paralelisme = sistem kejadian ragawi terdapat di
alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pada jiwa manusia. Dalam diri
manusia ada dua peristiwa yang berjalan seiring yaitu peristiwa mental dan
fisik, namun satu tidak menjadi sumber bagi lainnya.
Epifenomenalisme = melihat hubungan jiwa dan badan
dari fungsi syaraf. Satu-satunya unsur untuk menyelidiki proses kejiwaan adalah
syaraf.
BADAN
MANUSIA
Hakekat
badan bukan pertama-tama terletak pada dimensi materialnya, tapi dalam seluruh
aktivitas entitas yang terjadi dalam badan: tertawa, menangis, berjalan, lari,
duduk, dll.
Menurut
pandangan tradisional, badan merupakan kumpulan berbagai entitas material yg
membentuk makluk.
JIWA
MANUSIA
Jiwa
harus dipahami sebagai kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan
manusia siapa dirinya.
James
P Pratt menunjuk ada empat kemampuan dasar jiwa manusia.
Pertama, menghasilkan kualitas penginderaan.
Kedua, Mampu menghasilkan makna yg berasal
dr pengeinderaan khusus.
Ketiga, mampu memberi tanggapan thdp hasil
penginderaan.
Empat, memberi tanggapan pd proses yg
terjadi dlm pikiran demi kebaikan.
Menurut Agustinus,
manusia hanya bisa melakukan penilaian terhadap tindakannya karena dorongan dari
jiwa. Jiwa mendorong manusia untuk melakukan hukum-hukum moral yang diketahui.
Praktek moral sehari-hari adalah tanda berfungsinya jiwa dalam diri seseorang.
Kemampuan jiwa menunjukkan bahwa kegiatan manusia bukan mekanistik
Terimakasih telah mengikuti perjalanan kami di materi hari ini, semoga blog kami dapat membantu anda untuk memahami filsafat semakin lebih dalam dari ebelumnya dan emoga bermanfaat. God bless:)
Sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar Universitas Tarumanagara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar