Pada pertemuan ke empat ini, terasa sangat panjang karena perkuliahan dimulai dari pagi hingga sore. Awalnya cukup membosankan karena hanya mendengarkan pembicara berbicara. Namun, dugaan saya salah. Karena banyak aplikasi permainan dalam perkuliahan yang membuat kami menjadi tidak bosen berada dalam kelas hingga sore. Materi yang dibawakan juga cukup banyak karena menggantikan kelas pada tanggal 29 September. Berikut adalah rangkuman materi pada hari Jumat, 19 September 2014.
SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME
Subyektivime
Dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu. Pendukung pandangan ini adalah:
- Aristoteles, Plato, Rene Descartes
- Kaum Solipsisme (solo ipse)
- Kaum Realisme Epistemologis
- Kaum Idealisme Epistemologis
Ciri pendekatan subyektivisme:
-Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa),misalnya sejarah, kepercayaan2 yg lain, dst.
-Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.
-Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.
Menurut Descartes: Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.
Menurut Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya.
Menurut Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dlm suatu ide, yg merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
Descartes menolak skeptisme yang membawanya justru ke arah subyektivisme.
Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tahu tentang apa pun.
Menurut penganut skeptisisme mustahil manusia mencapai pengetahuan tttg sesuatu, atau paling kurang manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat mencapai pengetahuan tertentu.
Skeptisisme meragu-ragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu krn tidak ada bukti yang cukup bhw manusia benar2 tahu ttg sesuatu.
Obyektivisme
Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia – dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks – mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat). Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia. Pendukung pandangan ini adalah:
-Popper, Latatos dan Marx
Ada 3 pandangan dasar Objektivisme:
- Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif,
- Kebenaran itu datang dari bukti faktual,
- Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Pandangan ini sangat dekat dengan positivisme dan empirisme.
Pengetahuan dalam pengertian Objektivis:
1. Sepenuhnya independen dari klaim seseorang untuk mengetahuinya ;
2. Pengetahuan itu terlepas dari keyakinan seseorang atau kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
3. Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek.” (Karl R. Popper)
Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas.
Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa syarat harus dipenuhi:
a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Warna-warna infra merah tidak cocok bagi indera kita.
b.Organ indera harus normal dan sehat. Misalnya buta, tuli, atau buta warna. Tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.
c. Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada. Misalnya, warna akan ditangkat idera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
Obyek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu indera. Misalnya, warna, suara, bau.
Obyek umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera.
KONFIRMASI, INFERENSI, DAN TELAAH KONSTRUKSI TEORI
Konfirmasi
Berhubungan dengan filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna tentang sesuatu.
Ada 2 aspek konfirmasi:
Konfirmasi kuantitatif:
Untuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif.
Konfirmasi kualitatif:
Ada kalanya ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan kebenaran. Mungkin karena konfirmasi kuantitatif tdk bs dilaksanakan, maka hrs menjalankan konfirmasi kualitatif.
Konfirmasi berupaya mencari hubungan yg normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yg sudah diambil dengan fakta-fakta (evidensi).
3 teori konfirmasi:
decision theory: kepastian berdasarkan keputusan ‘apakah hubungan antara hipotesis dengan fakta punya manfaat aktual
estimation theory: menetapkan kepastian dg memberi peluang benar-salah melalui konsep probabilitas. Mis. statistik.
reliability theory: menetapkan kepastian dg mencermati stabilitas fakta/evidensi yg berubah2 terhadap hipotesis.
Inferensi
Kata inferensi artinya penyimpulan.
Penyimpulan diartikan sebagai proses membuat kesimpulan (conclusion).
Dengan demikian, inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan)
Penyimpulan: bisa berupa “mengakui” atau “memungkiri” suatu kesatuan antara dua pernyataan.
Jenis inferensi:
1. Inferensi langsung: penarikan kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan).
1. Inferensi langsung: penarikan kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan).
Premis yaitu data, bukti, atau dasar pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.
Dengan demikian, kesimpulan adalah pernyataan yang dihasilkan sesuai dengan premis-premis yang tersedia dan berhubungan secara logis dengan pernyataan tersebut.
Konklusi yang ditarik tidaklah boleh lebih luas dari premisnya.
2. inferensi tidak langsung:
penarikan kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis.
Konklusi tidaklah lebih umum dari pada premis-premisnya.
Premis-premis merupakan proposisi-proposisi yang digunakan untuk membuat konklusi.
Proposisi-proposisi yang menjadi premis-premis dalam suatu silogisme disebut antesendens, sedangkan proposisi yang menjadi konklusi disebut konsekuens.
Predikat konklusi disebut term mayor, sedangkan subyek konklusi disebut term minor.
Premis yang mengandung term mayor disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung term minor disebut premis minor.
Hukum inferensi
- Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
- Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
- Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
- Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
Konstruksi teori
teori=model/kerangka pikiran yg menjelaskan fenomen alami/sosial tertentu.
Pengelompokan perkembangan ilmu pengetahuan dalam 3 periode:
Animisme: fase percaya pd mitos.
Ilmu empiris: tolok ukur ilmu paling sederhana adalah
(a) pengalaman.
(b) klasifikasi: prosedur paling dasar utk mengubah data.
(c) penemuan hubungan-hubungan,
(d) perkiraan kabenaran.
Ilmu teoretis: gejala yg ditemukan dlm ilmu empiris diterangkan dg kerangka pemikiran.
3 model konstruksi teori:
Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
Model koherensi: sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. Mementingkan kesesuaian antara kebenaran obyektif –rasional universal dan kebenaran moral/ nilai. Model ini digunakan dalam pendekatan fenomenologis.
Model paradigmatis: Konsep kebenaran ditata menurut pola hubungan yang beragam, menyederhanakan yang kompleks.
CRITICAL THINKING
Berpikir kritis
Merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati2 mengamati/ memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu (Chaffee,1990)
Karakteristik berpikir kritis:
-.Rasional, Reasonable, Reflektif:Berdasarkan alasan2 dan bukti2; bukan atas dasar keinginan pribadi
- Melibatkan Skepticism yang sehat dan konstruktif: Tidak menerima atau menolak ide2, kecuali karena mengerti hal tersebut
-Otonomi: Tidak mudah dimanipulasi dan berpikir dengan pikiran sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya
-Kreatif: Menciptakan ide2 orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran2 dan konsep
-Adil: Tidak berpihak
-Dapat dipercaya dan dilakukan
5 model berpikir kritis:
1. Total recall
Mengingat fakta/ suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan
2. Habits
Pendekatan berpikir yang diulang2 dengan sering
3. Inquiry
Memeriksa isu2 secara mendalam dengan menanyakan hal2 yang terlihat nyata; termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu – khususnya asumsi seseorang terhadap situasi tertentu
4. New ideas and creativity
Membuat seseorang berpikir melebihi buku sumber
5. Knowing how you think
Berpikir tentang bagaimana eseorang berpikir
LOGIKA DEDUKSI INDUKSI
Deduksi
Selalu diungkapkan dalam bentuk silogisme. Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis dan dari premis-premis itu ditarik suatu kesimpulan.
jika premis-premis benar, maka kesimpulan juga harus benar. Benar salahnya kesimpulan deduktif berdasarkan rujukan realitas, argumentasi-argumentasi deduktif yang memiliki kekhasan tersendiri. Argumentasi-argumentasi deduktif dinilai lebih berdasarkan atas sahih (valid) atau tidak sahih (invalid).
Ciri silogisme:
- Semua pernyataannya (proposisi) adalah proposisi kategoris.
- Terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan.
- Dua premis dan satu kesimpulans ecara bersama-sama memuat tiga term (kata) yang berbeda dan masing-masing trem tampak di dalam dua dari tiga proposisi.
Induksi
Penalaran induksi adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau partikular tertentu untuk menarik kesimpulan yang umum tertentu.
Di satu pihak penalaran induksi memiliki persamaan dengan deduksi, yaitu kedua-duanya mendasari argumentasi-argumentasinya dari premis-premis yang mendukung kesimpulan.
Perbedaan mendasarnya, argumentasi dalam penalaran induksi yang tepat akan mempunyai premis-premis yang benar, namun kesimpulannya dapat salah.
Hal ini disebabkan oleh argumentasi-argumentasi dalam penalaran induksi yang tidak membuktikan bahwa kesimpulan itu benar.
Kesimpulan dari argumentasi induktif berupa pernyataan umum yang didasarkan pada premis-premis mengenai sampel-sampel khusus.
Ciri penalaran induksi:
- Premis-premis dalam penalaran induksi merupakan proposisi empiris yang berhubungan langsung dengan observasi indera. Indera menangkap dan akal menerima.
- Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas dari pada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya. Karena itu, pikiran tidak terikat untuk menerima kebenaran kesimpulannya. Jadi menurut kaidah-kaidah logika penalaran ini tidak sahih.
- Meskipun kesimpulan induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal akan menerimanya, kesuali apabila ada alasan untuk menolaknya. Jadi dapat dikatakan bahwa kesimpulan induksi itu memiliki kredibilitas rasional yang disebut probabilitas.
Generalisasi induktif
merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala atu sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua.
Generasilasi tidak terbatas secara numerik. Artinya generalisasi tidak boleh terikat pada jumlah tertentu.
Generalisasi tidak terbatas secara “spasio-temporal”. Artinya generalisasi tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu. Jadi berlaku di mana saja dan kapan saja.
Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian.
Analogi induktif
Dalam melakukan pembandingan ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu Persamaan dan Perbedan.
Analogi dalam penalaran adalah analogi induktif artinya suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus lainnya yang memiliki sifat-sifat esensial yang sama.
Berbeda dengan generalisasi induktif, di mana kesimpulannya selalu berupa proposisi universal, kesimpulan analogi induktif tidak selalu berupa proposisi universal, melainkan tergantung dari subyek-subyek yang dibandingkan.
Faktor probabilitas
Probabilitas adalah keadaan pengetahuan antara kepastian dan kemungkinan.
Misalnya, kesimpulan bahwa “semua manusia akan mati” adalah kesimpulan yang pasti benar hanya jika menunjuk pada mereka yang telah mati.
Tinggi rendahnya probabilitas kesimpulan induktif dipengaruhi beberapa faktor, di antara faktor fakta,faktor analogi, faktor disanalogi dan faktor luas konklusi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesesatan dalam penalaran induktif, yaitu:
- Faktor Tergesa-gesa
- Faktor ceroboh
- Faktor prasangka
Hubungan sebab-akibat
Hubungan sebab akibat seringkali dikaitkan bahwa keadaan yang terjadi disebabkan oleh keadaan atau kejadian lainnya. Kejadian yang lainnya disebut sebab dan yang terjadi sebagai akibat.Hubungan sebab akibat sebenarnya merupakan suatu hubungan yang intrinsik atau hubungan yang asasi dalam pengertian hubungan yang sedemikian rupa sehingga apabila satu (sebab) ada / tiada maka yang lain juga pasti ada / tiada.Hubungan sebab akibat antara peristiwa-peristiwa dapat terjadi dalam tiga pola, yaitu:
Pola dari sebab ke akibat
Pola dari akibat ke sebab
Pola dari akibat ke akibat
sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar
sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar
Lengkap banget si kaaaaa
BalasHapusKasih nilai 86 deh
haha makasih ya nia:**
BalasHapusTulisannya rada dempet tapi bagus..82
BalasHapusHai feb hehe, blognya lucu deh warnanya biru karena ak suka biru, terus menurut ak isi blognya sih lengkap hehe jadi ak kasih nilai 88 soal ya 8 itu nyambung terus, terus kita 8 orang jadi semoga kita bersahat terus dalam kelompok heheh
BalasHapusyeeeey thankyou crastella dan olentin hehe
BalasHapusblognya bermanfaat sekali untuk menambah wawasan dan desainnya juga oke banget! (dolphinnya lucu) nilainya 85 deh!!
BalasHapusyeeey makasih ya ameeel wkwkkw
Hapus