Jumat, 26 September 2014

Materi Jumat, 26 September 2014



Halo semua pengunjung setia Filsafat Tour Agency masih tetap bersama saya guide Veronica. Kali ini, saya akan mengajak anda menjelajahi tentang manusia dan afektivitasnya dan kebebasan manusia serta materi tambahan kami yakni inteligensi. Selamat menikmati perjalanan anda!!

MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA
Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah afektivitasnya. Afektivitas mendorong orang untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.

Kerap afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa: Padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga menyangkut hal yg spiritual.

Hidup afektif atau afektivitas adalah seluruh perbuatan afektif yang dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.

Perbuatan afektif sedikit mirip dengan ‘perbuatan mengenal’ karena dianggap perbuatan vital/imanen. Tapi perbuatan afektif beda dengan ‘perbuatan mengenal’ karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pada obyek.

Orang sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka tidak baik. Padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai orang lain dengan sungguh2.

Egoisme menolak setiap perhatian otentik pada orang lain. Orang egois hanya mengambil untung dari apa saja.

KEBEBASAN

JIWA DAN KEEBASAN

Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya

Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas. Karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas. Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanisme

sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan” (Erich Fromm, The Fear of Freedom, 1960). Artinya, kebebasan menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia.

PANDANGAN DETERMINISME

Aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa-peristiwa lainnya.

Kelemahan determinisme:
1.    Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia.
2.    Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
3.    Menafikan adanya tanggung jawab

PENGERTIAN KEBEBASAN 

Pengertian umum/Kebebasan negatif/tidak ada hambatan (tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan). Tapi ini bukan kebebasan eksistensial

Pengertian khusus/kebebasan eksistensial:
1.    Penyempurnaan diri
2.    Kesanggupan memilih dan memutuskan
3.    Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan (kebebasan/hak-hak dasar seperti ditegaskan Franz Magnis-Suseno)

JENIS KEBEBASAN

      Kebebasan horizontal
Berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
2  
      Kebebasan eksistensial
kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain, kebebasan:

Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial:
a.    Melibatkan pertimbangan
b.    Mengedepankan nilai kebaikan
c.    Menghidupkan otonomi
d.    Menyertakan tanggung jawab
Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normatif

Empat alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
            *)Menyertakan pengertian
            *)Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
            *)Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
            *)Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk social

SEJARAH PERKEMBANGAN MASALAH KEBEBASAN

Filsafat Yunani tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah kebebasan karena…

Adanya pandangan bahwa semua hal berada di bawah “nasib”, “kehendak mutlak” yang mengatasi manusia dan para dewasa, yang secara sadar atau tidak sadar menentukan tindakan. Jadi, tak ada pertanggungjawaban manusia atas tindakannya

Menurut pemikiran Yunani, manusia adalah bagian alam maka harus mengikuti hukum umum yang mengaturnya dan manusia terpengaruh oleh sejarah yang bergerak secara siklis

Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik

Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan oleh perspektif antroposentrik
 
Era kontemporer (pascamodern?), kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial
Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri

INTELIGENSI

Pengetahuan kita adalah sekaligus inderawi dan intelektif. Dikatakan inderawi lahir melalui penglihatan, telinga, penciuman, perasaan dan perabaan, kenyataan yang mengelilingi kita.  
 Dikatakan inderawi batin ketika ia memperlihatkan pada kita dengan ingatan dan khayalan.

Pengetahuan adalah perseptif ketika muncul secara spontan dan memungkinkan menyesuaikan diri
Pengetahuan adalah reflektif ketika ia membuat objektif kodrat dari manusia
Pengetahuan adalah diskursif ketika ia memperhatikan suatu objek dari benda.
Pengetahuan adalah induktif ketika ia menarik dari universal dari individual
Pengetahuan bersifat sinergis bila menggunakan seluruh keadaan dari subjek.

ARTI PENGETAHUAN
Dari segi subjek, keterbukaan, kemampuan, interioritas
Dari segi objek, membuat kesan mempengaruhi subjek. Suatu realitas bisa mempengaruhi yang lainnya.

Intelegensi tidak bisa diidentifikasikan dengan insight yang terdiri dari aperepsi dan aprehensi

Insight bukanlah merupakan keseluruhan kegiatan intelektual

bila bersifat induktif maka dia mulai dari satu atau banyak fakta untuk sampai kepada satu esensi atau hukum

Bila bersifat deduktif, maka ia mulai dari suatu prinsip untuk mencapai kesimpulan
Intelegensi manusia dewasa terletak pada objektivitasnya dan bersifat tak terbatas ia memperhitungkan pelajaran masa lampau dan kemungkinan masa depan. Segala penegasan, penilaian, kesimpulan dan penalaran kita didasarkan kepada beberapa prinsip:
1. Prinsip identitas
2. Prinsip alasan yang mencukupi
3. Prinsip kausalitas efisien

Insight adalah intelegensi yang berhasil menembus suatu data, menangkap eidosnya, bahwa intelegensi mampu mengandaian atau mengabstraksikan untuk menerangkan data sehingga jelas ciri-ciri pokoknya.

Putusan lebih di refleksikan daripada persepsi, aprehensi, dan insight sebab tidak ada putusan autentik kecuali sudah menyadari dasar kebenarannya.
Menurut aliran sensualisme masukan informasi lewat indra tempat bergantungnya pengetahuan dan intelegensi kita. Intelegensi adalah prinsip kekekalan dalam diri kita. 

Terimakasih telah mengikuti perjalanan kami hari ini. semoga blog kami dapat memberi manfaat dan menambah pengetahuan kalian semua. God bless:)

Sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar Universitas Tarumanagara

Materi Kamis, 25 September 2014



Haiii semua kembali lagi bersama saya Veronica di Filsafat Tour Agency. Hari ini rute perjalanan anda adalah menelusuri filsafat manusia yaitu jiwa dan badan. Apakah anda sudah siap dengan perjalanan hari ini? Haha oke, here we go!

FILSAFAT MANUSIA: JIWA DAN BADAN

Apasih pengertian badan dan jiwa? Mungkin beberapa dari anda memiliki pendapat yang berbeda satu sama lain. Nah, daripada makin bingung, kita liat yuk pengertiannya

Badan dan jiwa adalah satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.

MONISME
Aliran yg menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia.

Bentuk aliran monisme adalah sebagai berikut:

Materialisme: menempatkan materi sebagai dasar bagi segala hal yang ada (fisikalisme). Manusia juga bersumber pada materi. Manusia tidak pernah melampaui potensi jasmaninya. Jiwa tidak punya eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dari materi. Eksistensi jiwa bersifat kronologis (hasil hub sebab akibat). Reduksi humanitas pada dimensi fisik memiliki implikasi negatif pada penilaian atas aktivitas mental.

Teori identitas: menekankan hal berbeda dari materialisme, tapi mengakui aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Letak perbedaan jiwa dan badan hanya pada arti bukan referensi. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yang sama.

Idealisme: ada hal yg tidak dapat diterangkan semata berdasarkan materi, seperti pengalaman, nilai dan makna. Itu hanya punya arti bila dihubungkan dengan sesuatu yang imaterial yaitu jiwa. Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya menjadi peletak dasar dari idealisme.

DUALISME
badan dan jiwa adalah dua elemen yang berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dalam pengertian dan objek.

Empat cabang dualisme:

Interaksionisme =fokus pada hubungan timbal balik antara badan dan jiwa. Peristiwa mental bisa menyebabkan peristiwa badani dan sebaliknya.

Okkasionalisme = memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa. Hubungan peristiwa mental dan fisik bisa terjadi dengan campur tangan ilahi.  

Paralelisme = sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pada jiwa manusia. Dalam diri manusia ada dua peristiwa yang berjalan seiring yaitu peristiwa mental dan fisik, namun satu tidak menjadi sumber bagi lainnya.

Epifenomenalisme = melihat hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu-satunya unsur untuk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.

BADAN MANUSIA
Hakekat badan bukan pertama-tama terletak pada dimensi materialnya, tapi dalam seluruh aktivitas entitas yang terjadi dalam badan: tertawa, menangis, berjalan, lari, duduk, dll.
Menurut pandangan tradisional, badan merupakan kumpulan berbagai entitas material yg membentuk makluk.

JIWA MANUSIA
Jiwa harus dipahami sebagai kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.

James P Pratt menunjuk ada empat kemampuan dasar jiwa manusia.
Pertama, menghasilkan kualitas penginderaan.
Kedua, Mampu menghasilkan makna yg berasal dr pengeinderaan khusus.
Ketiga, mampu memberi tanggapan thdp hasil penginderaan.
Empat, memberi tanggapan pd proses yg terjadi dlm pikiran demi kebaikan.

Menurut Agustinus, manusia hanya bisa melakukan penilaian terhadap tindakannya karena dorongan dari jiwa. Jiwa mendorong manusia untuk melakukan hukum-hukum moral yang diketahui. Praktek moral sehari-hari adalah tanda berfungsinya jiwa dalam diri seseorang. Kemampuan jiwa menunjukkan bahwa kegiatan manusia bukan mekanistik

Terimakasih telah mengikuti perjalanan kami di materi hari ini, semoga blog kami dapat membantu anda untuk memahami filsafat semakin lebih dalam dari ebelumnya dan emoga bermanfaat. God bless:)

Sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar Universitas Tarumanagara







Kamis, 25 September 2014

Materi Selasa 23 September 2014



Hallo semuanya kembali lagi di blog kami Filsafat Tour Agency dengan saya guide Veronica yang akan menemani anda mengelilingi seluk beluk materi hari ini. Materi kali ini adalah mengenai etika dalam praktek dan filsafat manusia. Wahhhh menarik sekali bukan? Berikut kami telah merangkum dari kedua materi tersebut.

ETIKA DAN MORAL

Etika disebut juga flsafat moral secara etimologis, etika berasal dari kata Yunani=Ethos: watak.Sedangkan moral berasal dari kata Latin: Mos (tunggal), moris (jamak) artinya kebiasaan. Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kesusilaan.

Obyek material dari etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan dimaksudkan di sini adalah yang dilakukan secara bebas dan sadar. Obyek formal dari etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.
Dari asal usul kata; Etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan
Etika menurut Bertens:
1.
Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Disebut juga sebagai “sistem nilai” dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat. Misal: Etika orang Jawa.

2.Kumpulan asas atau nilai moral. Yang dimaksud disini adalah kode etik, misal : Kode Etik Advokat Indonesia, Kode Etik Notaris Indonesia.

3.Ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Artinya sama dengan filsafat moral.
Etika dibedakan menjadi 2:

ETIKA PERANGAI
            Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku. Contoh: berbusana adat, pergaulan muda-mudi, perkawinan semenda, upacara adat.

ETIKA MORAL
            Berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila dilanggar timbul kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.Contoh: berkata dan berbuat jujur, menghargai hak orang lain, menghormati orang tua atau guru, membela kebenaran dan keadilan, menyantuni anak yatim-piatu
 Arti etika: 
Etika sebagai ilmu
            “Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.”
Etika sebagai kode etik
            “Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.”
Etika sebagai sistem nilai
            “Nilai mengenai benar-salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.”
Objek material = suatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran, suatu hal yang diselidiki, atau suatu hal yang dipelajari. Objek material bisa bersifat konkret atau abstrak.

Objek formal = cara memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti/ ilmuan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.

Objek material etika = tingkah laku atau perbuatan manusia (perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas).

Objek formal etika = kebaikan dan keburukan, bermoral tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. (Perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar atau tidak bebas, tidak dapat dikenakan penilaian bermoral atau tidak bermoral).

BERDASARKAN KAJIAN ILMU
1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
2.Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.

TUJUAN BELAJAR ETIKA
Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu
Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.

SISTEMATIKA ETIKA
De Vos (1987)
ETIKA:
       Etika Deskriptif
            1. Sejarah Kesusilaan
            2. Fenomenologi Kesusilaan
       Etika Normatif
K. Bertens (1993):
ETIKA:
       Etika Deskriptif
       Etika Normatif
            1. Etika Umum
            2. Etika Khusus
       Metaetika
Franz Magnis-Suseno (1991)
ETIKA:
       Etika Umum
       Etika Khusus
            - Etika Individividual
            - Etika Sosial:  - Sikap terhadap sesama
                                           - Etika keluarga
                                           - Etika profesi:    -biomedis
                                                                         - bisnis
                                                                         - hukum
                                                                         - ilmu pengetahuan
                                                                         - dll
                                           - Etika politik
                                           - Etika lingkungan hidup
                                           - Kritik ideologi-ideologi

ETIKA DESKRIPTIF
Dalam etika deskriptif, etika membahas apa yang dipandangnya.
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. Misalnya: adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.
Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu dan kebudayaan atau subkultur tertentu, atau dalam suatu periode sejarah.

SEJARAH KESUSILAAN
Yang diselidiki adalah: pendirian-pendirian mengenai baik-buruk yang manakah, norma-norma kesusilaan yang manakah yang pernah berlaku, dan cita-cita kesusilaan yang manakah yang dianut oleh bangsa-bangsa tertentu

FENOMENOLOGI KESUSILAAN
Fenomenon =  sesuatu yang tampak, yang terlihat     
                        karena bercahaya (sering disebut
                        gejala)
Logos = uraian, percakapan
Fenomenologi: Uraian atau percakapan tentang 
                         fenomenon atau sesuatu yang
                         sedang menampakkan diri, atau
                         sesuatu yang sedang menggejala
Fenomenologi kesusilaan mencari makna kesusilaan dari gejala-gejala kesusilaan; artinya, ilmu pengetahuan ini melukiskan kesusilaan sebagaimana adanya, mempertanyakan apakah yang merupakan hakikat kesusilaan.
Ciri pokok fenomenologi adalah menghindarkan pemberian tanggapan mengenai kebenaran

ETIKA NORMATIF
Etika normatif tidak lagi berbicara tentang gejala-gejala, tetapi tentang apa yang seharusnya dilakukan. Dalam etika normatif, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan.
Etika normatif berbicara mengenai pelbagai norma yang menuntun tingkah laku manusia. Etika normatif memberikan penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma.
Etika normatif itu tidak deskriptif, tetapi preskriptif (artinya memerintahkan); tidak melukiskan melainkan menentukan benar-tidaknya tingkah laku atau anggapan-anggapan moral.

METAETIKA
Istilah metabahasa diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan di bidang moralitas.
Metabahasa bergerak pada taraf lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu pada taraf “bahasa etis” atau bahasa yang digunakan di bidang moral.
Persoalan yang menyangkut metaetika adalah persoalan yang rumit. Pertanyaan tentang hakikat keadilan, hakikat ketidakadilan, bahkan hakikat kebaikan dan keburukan, kerap kali pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab secara memuaskan.

ETIKA UMUM
Etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip dasar yang beraku bagi segenap tindakan manusia.

ETIKA KHUSUS
membahas prinsip-prinsip moral dasar itu dalam hubungan dengan kewajiban manusia dalam pelbagai lingkup kehidupannya; atau, etika khusus menerapkan prinsip-prinsip dasar pada setiap bidang kehidupan manusia.

PROFESI
Pekerjaan yg mengandalkan ketrampilan dan keahlian khusus
Pekerjaan yg dilakukan sebagai sumber utama nafkah hidup dg keterlibatan pribadi yg mendalam dalam menekuninya.
Pekerjaan yg menuntut pengembangan untuk terus menerus memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan sesuai perkembangn teknologi.
Etika Profesi adalah : Etika sosial yg menyangkut hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna profesi tersebut.

PRINSIP ETIKA PROFESI
1. Tanggung jawab
Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
2. Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
3. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

KODE ETIK
norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
Tujuan kode etik:
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para        anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan       terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.

ALIRAN PEMIKIRAN ETIKA
Hedonisme (Yunani = hedone: kenikmatan atau yang menyenangkan). Kebaikan manusia menurut kaum hedonis terletak dalam kenikmatan dan kesenangan yang menjadi tujuan hidup manusia. Aliran ini menganjurkan manusia untuk mencapai kebahagiaan yang didasarkan pada kenikmatan, kesenangan. Aliran hedonisme menyatakan bahwa kesenangan/ kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia oleh karena itu reguklah kenikmatan selama masih bisa direguk. Padahal mereka lupa bahwa kegembiraan pikiran lebih tinggi daripada kenikmatan jasmani.

Egoisme: kesenangan dan kebaikan diri sendiri menjadi target usaha seseorang dan bukan kebaikan orang lain. Sebaliknya aliran yang menekankan dan melihat kesenangan atau kebahagiaan orang lain menjadi tujuan segala usaha manusia disebut: altruisme (Latin: alter= yang lain atau orang lain)

Utilitarianisme:  (Latin: uti, usus sum= menggunakan atau utilis= yang berguna). Ini merupakan bentuk hedonisme yang digeneralisir. Kesenangan atau kenikmatan manusia dilihat sebagai seusuatu yang baik dalam dirinya, sedangkan penderitaan dan sakit adalah buruk dalam dirinya. Aliran ini menyatakan bahwa tindakan yg baik adalah tindakan yg sebesar-besarnya bagi manusia yang sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain segala sesuatu yang berguna selalu dianggap baik.

Deontologisme (Yunani: deon+logos= ilmu tentang kewajiban moral). Adalah etika kewajiban yang didasarkan pada intuisi manusia tentang prinsip-prinsip moral. Sikap dan intensi pelaku lebih diutamakan daripada apa yang dilakukan secara konsekuensi perbuatan itu. 

Deontologisme Etis: berpendirian bahwa sesuatu tindakan dianggap baik tanpa disangkutkan dengan nilai kebaikan suatu hal. Yang menjadi dasar moralitas adalah kewajiban.

Etika situasi: kebenaran suatu tindakan ditemukan dalam situasi konkret individual atau bagaimana situasi itu mempengaruhi kesadaran individual.
PERBEDAAN ETIKA DAN MORAL

moral/moralitas digunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai;
 etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.

AMORAL DAN IMMORAL
Amoral:
       “tidak berhubungan dengan konteks moral”
       “di luar suasana etis”
       “non-moral”
Immoral:
       “bertentangan dengan moralitas yang baik”
       “secara moral buruk”
       “tidak etis”
BEDA ETIKA DAN ETIKET

BEDA ETIKA DAN AGAMA
Etika sebagai cabang filsafat bertitik tolak pada akal pikiran, bukan agama. Etika mendasarkan diri hanya pada argumentasi rasional. Agama bertitik tolak dari wahyu Tuhan melalui Kitab Suci.

BEDA ETIKA DAN HUKUM
Hukum didasarkan pada kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara; etika melebihi para individu dan masyarakat.
Jika hukum memberikan putusan hukumnya perbuatan, etika memberikan penilaian baik buruknya.
Etika ditujukan kepada manusia sebagai individu; hukum ditujukan kepada manusia sebagai makhluk sosial.

FILSAFAT MANUSIA
Bagian filsafat yang mengupas apa arti manusia/menyoroti hakikat atau esensi manusia
Memikirkan tentang asal-usul kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of human life), dan realitas eksistensi manusia
Hasrat untuk tahu siapa dan apakah manusia. Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.

GUNA BELAJAR FILSAFAT
Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari “yang ada”
Pandangan yang bertentangan antar filsuf dapat diatasi dan diperdamaikan
“kesalahan” para filsuf dapat dikoreksi lagi
Sayang bukan bila tidak mendalami ajaran filosofis yang begitu mendalam dari para filsuf a.l:
  Plato
  Aristoteles
  Merleau-Ponty
  Paul Ricoeur
  Martin Heidegger
  Soren Kierkegaard
  Emmanuel Levinas
  Gabriel Marcel
  Jacques Lacan
  Jacques Derrida dll
Konsepsi mereka begitu mendalam dan holistic

METODE FILASAFAT MANUSIA
refleksi, analisa transendental dan sintesa, ekstensif, intensif dan kritis

OBJEK FILSAFAT MANUSIA
Objek material: manusia
Objek formal: esensi manusia, strukturnya yang fundamental
Struktur fundamental bukan fisik melainkan struktur metafisik yakni intisari, struktur dasar, bentuk terpenting manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui melalui daya pikir, bukan penginderaan.

DARI MANA DATANGNYA FILSAFAT MANUSIA?
1.  Kekaguman
2. Ketakjuban
3.   Frustrasi
4.   Delusi
      5. Pengalaman negatif
“aku menjadi masalah besar bagi diriku” kata Augustinus yang sedih karena kematian temannya
“karena kita adalah manusia yang akan mati…kita tidak akan puas dengan perubahan formasi sosial melulu, tetapi kita ingin mengetahui persoalan pribadi” (Adam Schaft)
Refleksi filosofis tentang manusia dapat tumbuh dari pengalaman akan kehampaan, alienasi, rutinitas, dan absurditas  sebagaimana digambarkan oleh Albert Camus

Thanks guys selamat menikmati perjalanan anda dengan Filsafat Tour Agency semoga kami dapat terus membantu anda dalam memahami filsafat. Terimakasih:)


Sumber: rangkuman materi yang dibawakan oleh dosen pengajar Universitas Tarumanagara