Selasa, 07 Oktober 2014

Materi Jumat 4 Oktober 2014



Halo temann semuaa hari ini kami akan membahas tentang eksistensialisme. Nah, menarik banget loh materi ini. Daripada penasaran mending ikutin kita terus yukkk!!

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? Bagaimanakah manusia yang bebas itu? Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.

Dalam studi sekolahan filsafat, eksistensialisme paling dikenal melalui kehadiran Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya "human is condemned to be free" atau manusia dikutuk untuk bebas. Artinya, dengan adanya kebebasan maka manusia itu dapat bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal "kebebasan yang bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.

Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang beda-daripada-yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada di luar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya di masa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.
Kaum eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji, baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau keyakinan kita

POKOK-POKOK AJARAN KIRKEGAARD
Kirkegaard mengkritik Hegel karena terdapat satu hal yang dilupakan Hegel. Menurut Kirkegaard, eksistensi manusia individual dan konkret. Manusia tidak dapat dibicarakan ‘pada umumnya’ atau ‘menurut hakekatnya’, karena manusia pada umumnya tidak ada. Yang ada itu adalah manusia konkret yang semua penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan. Manusia itu eksistensi.
Eksistensi berarti bagi Kierkegaard: merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya.
3 cara bereksistensi yaitu :
•      Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh perasaan.
•      Sikap etis: Sikap menerima kaidah2 moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya.
•      Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan

PEMIKIRAN FILSAFAT SARTRE

Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran. Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya.  Bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Asas pertama untuk memahami manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab. Tanggung jawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.

Membedakan “berada dalam diri” dengan “berada untuk diri”. Berada dalam diri = berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Mis. meja itu meja, bukan kursi, bukan tempat tidur. Semua yang berada dalam diri ini tidak aktif. Mentaati prinsip it is what it is.
Berada untuk diri = berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia punya hubungan dengan keberadaannya. Bertanggung jawab atas fakta bahwa ia ada. Mis. Manusia bertanggung jawab bahwa ia pegawai, dosen. Benda tidak sadar bahwa dirinya ada, tapi manusia sadar bahwa dia berada. Pada manusia ada kesadaran.
Tuhan tidak bisa dimintai tanggung jawab . Tuhan tidak terlibat dalam putusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan, dan hanya sebagai makhluk yang bebas dia bertanggung jawab. Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.


sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme (7 Oktober 2014) dan materi yang dibawakan oleh dosen pengajar

Sabtu, 04 Oktober 2014

Materi Kamis 2 Oktober 2014



Halo semua setelah sekian lama kami tidak ada kelas, maka kali ini kami akan membuat rangkuman materi hari kamis, 2 Oktober 2014. Pada pertemuan ini beda dengan pertemuan-pertemuan lainnya. Karena kali ini kami terjun langsung ke lapangan alias fieldtrip. Nah, kami berkesempatan mengunjungi kampung betawi di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Disana kami mempelajari banyak kebudayaan betawi, berinteraksi dengan warga sekitar dan mencicipi makanan khas betawi. Seru kan?haha nah, untuk itu kami akan membagikan keseruan kami melalui blog hari ini.

Materi pada hari ini adalah mengenai kebudayaan dan etos kerja. Kami mendapatkan tugas untuk mewawancarai beberapa pedagang. Diantaranya pedagang es potong, pedagang buah keliling, kerak telor, gulali, es doger, penjual minuman dan yang paling menarik adalah saat kami mewawancarai anggota marinir yang sedang latihan di setu babakan. Rata-rata pedagang yang kami temui berlatarbelakang ekonomi menengah kebawah. Mereka rata-rata adalah pendatang dari daerah lain dan bukan warga asli kampung betawi. Saat berjualan, nilai-nilai yang mereka pegang adalah nilai kejujuran. Salah satunya mereka tidak menggunakan bahan pengawet dalam dagangannya. Saat disinggung mengenai harapan mereka kedepannya, mereka hanya menjawab dengan singkat yakni ingin memiliki usaha sendiri dan tidak bergantung dengan usaha milik orang lain. Karena upah yang diterima sangat sedikit. Selain itu, pada saat mewawancarai anggota marinir, yang kami wawancarai merupakan anggota dengan pangkat letnan 2. Menurutnya, menjadi anggota marinir merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena dapat berbakti kepada nusa dan bangsa. Mereka mengabdi dengan sepenuh hati tanpa pernah merasakan duka saat menjalani tugas kenegaraannya untuk membela bangsa. Wahh salut banget dengan bapak marinir ini haha.

Banyak kebudayaan betawi yang kami temui disana. Seperti patung ondel-ondel, melihat alat musik tradisonalnya dan melihat rumah asli betawi yang sangat tradisional. Ditengah modernisasi zaman, kebudayaan betawi masih bertahan dan tidak kalah dengan kebudayaan mancanegara. Dengan didirikannya kampung betwi, merupakan salah satu cara untuk terus mempertahankan kebudayaan betawi dan membuat orang mengenal lebih dalam tentang kebudayaan tersebut. Mayoritas masyarakat disana masih mempertahankan kebudayaan betawi. Mereka tidak ingin kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang hilang ditengah zaman yang sangat modern ini.

Berikut kami tampilkan beberapa foto saat berada di kampung betawi